Rabu, 14 Januari 2015

UNTUK IBU DI SURGA

UNTUK IBU DI SURGA
Suasana haru yang menyelimuti rumah Fatma merubah suasana pagi .Perpisahan antara keluarganya menjadikan pagi yang terselimut tangisan tangisan yang membasahi pipi orang tua dan saudara saudaranya. Mereka belum siap berpisah dengan Fatma apalagi ayah dan ibunya yang hanya mempunyai dua anak yaitu fatma dan adiknya yang masih duduk di bangku kelas satu SD. Begitu juga hati Fatma tidak rela berpisah dengan ibunya yang mempunyai sakit jantung yang kadang kadang kambuh walaupun kepergianya adalah keinginanya juga demi meraih cita cita yang diinginkan ibunya juga.
“Fatma..belajarlah dengan sungguh sungguh di Yogya sana,raihlah Mimpimu, jadilah seorang dokter yang hebat agar bisa membantu orang lain. Jadilah Orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.Jagalah dirimubaik baik.Ibu dan ayah akan baik baik saja di sini.Ibu dan ayah hanya minta do’a dari Fatma agar kami selalu mendapat kasih sayang dari alloh dan selalu mendapatkan ampunanya. Pergilah…”  kata kata ibu Fatma melepas kepergian Fatma dengan airmata yang mengalir di pipinya.
“Iya ibu..Fatma akan mempersembahkanya  untuk ibu.Akan ku raih mimpiku demi ibu.Fatma akan jaga diri Fatma dan akan selalu ku do’akan ibu” lirih Fatma dengan tangisan sulit di hentikan.
Sementara ayah fatma hanya hanya bisa mengucap satu kata dengan pipinya yang ranai
“pergilah”
Fatmapun pergi setelah merasakan hangatnya pelukan sang ibunda dan belaian sang ayah. Adiknya pun telah dipeluknya.
“harun.. jaga diriyah,beljarlah yang rajin, jangan nakal sama ayah dan ibu do’akan kakak yah.”pesan Fatma kepada adik
Fatma pergi dengan bus yang kebetulan lewat dan berhenti di jalan raya depan rumah.Tangis Fatma tak kunjung berhenti sampai perjalanan yang sudah cukup jauh.Baru berhenti ketika Fatma berfikir tegar.Ia harus semangat. Dan tak ada gunanya menangis terus menerus.
Fatmapun sampai di jogja dad segera mencari tempat kost setelah istirahat.Ia berniat mencari kost yang dekat dari kampusnya. 

Fatma telah menikmati belajarnya di jurusan kedokteran yang di ambilnya.Ujian semester genap telah di siapkan dengan baik.Ia menghabiskan waktu di kost untuk belajar.
Siang ketika fatma sedang berada di depan kelas dan dia sedang berpresentasi tiba tiba hp Fatma berbunyi. Keluarga dari rumahnya menelponya yaitu pak lek Fatma. Fatma langsung keluar dari ruang kelas
“ Halo …Assalamu’alaikum,,,Gimana pale’”
“ Ya halo,,,Wa’alaikumsalam.. Fatma ?? .. ibu,,,,,,,”
“ibu kenapa,,?” tanya Fatma dengan nada panik dan penasaran

“ibu kamu Fatma, Ibu kamu dirawat di rumah sakit. Penyakit jantung ibu kambuh parah.cepat sebaiknya kamu pulang sekarang juga”
“Ya udah sekarang aku pulang”
Fatma masuk kelas dengan pipinya yang basah.Ia segera juga mengambil tas dan izin pada dosen. Ia hanya bilang mau izin pulang.Semua teman teman fatma bingung dengan keadaan fatma.Yang tiba tiba aneh dan menangis.
“Fatma… Fatma kenapa ?”..tanya seorang temanya
“Ibu…” sambil keluar dengan gugup hanya kata itu yang dikatakan untuk menjawab temanya itu
Perasaan gelisah menyelimuti Fatma sepanjang perjalanan. Air matanya tak kunjung berhenti karena sangat khawatir dengan keadaan sang ibunda.
Sesampainya di rumah sakit ibu fatma telah di tutup dengan kain putih.Ibu fatma telah meninggalkan Fatma dan adiknya Teriakan dan tangis Fatma merubah suasana rumah sakit.Tak ada yang lebih berarti dari pada ibu bagi Fatma.Tanpa ibunya baginya hilanglah arti kehidupan.Mimpinyapun telah memudar.
“Fatma…tidak ada gunanya fatma menangis. Tangis fatma justru akan membuat ibu sedih. Fatma cukup mencapai dan menjalankan apa harapan ibu, ibu pasti akan bahagia disana.”nasehat ayah untuk menghentian tangis Fatma
Fatmapun memeluk ayahnya.
Ketika itu adik fatma datang bersama paman.
“kaka kenapa ko nangis, Jangan nangis ka..”ucap polos harun yang tidak tahu apa apa
“harunsayang,,,”serak lirih Ftma sambil memeluk adiknya dan sambil berusaha menghentikan tanginya.
“Ayah…Ibu sedang tidur yah ?”polos Harun
Tak ada yang menjawab pertanyaan harun.Mereka bertiga berpelukan. Sementara pamannya diam temenu menyimpan haru di belakang mereka
“ka..ko ibu belum bangun..Harun pingin jalan jalan sama ibu..”
“iya harun nanti dulu” jawab fatma dengan menahan air matanya
Suatu saat kemudian ibu dibawa pulang
“ka.. ko ibu dimandiin ka..?”
“Iya kan mau jalan jalan sama harun”walau jawaban Fatma yang tidak sesuai cukup membuat harun percaya.
“Ko ibu di pakein baju putih?” tanya harun setelah ibunya dimandikan
. Fatma hanya mengelus rambut harun sanbil menahan tangis
“ko ibu dibawa ke kuburan?”
Lagi lagFatma tidak menjawabnya
“ko ibu dimasukin lubang, kan mau jalan jalan bareng harun dan kaka”
“Ibu mau istirahat dulu Harun”
“ibu belum bangun yah.Terus jaln jalanya kapan.”
“Nanti Harun …ibu istirahat dulu”
“Kapi kapan ka,”
Ko ibu di timbun tanah ka,Ko ibu di bari kembang dan pertanyaan pertanyaan lain tidak di jawab oleh Fatma

Setelah pemakaman selasai semua petaziah meninggalkan makam. Tinggal ayah, Fatma dan harun  yang masih di samping makam ibu. Kemudian ayah dan Fatma mengajak Harun untuk pulang
“Nanti dulu Ayah, harun mau nunggu ibu bangun, Harun mau jalan jalan”
“Iya harun tapi sekarang pulang dulu Harun ganti baju dulu”
Satu minggu setelah penguburan ibu, Fatma telah mampu memberi keterangan pada adiklnya tentang ibunya. Dia bermaksud akan kembali ke Jogja untuk meneruskan studinya. Teman teman Fatma tahu semua yang telah terjadi entah dari siapa.Terutama Fadil yang sempat membuatkan izin atas kepulangan Fatma.
Fatma merasa di buat baik oleh Fadil dan pada hari keduanya dia sempat makan bersama di kantin dengan ajakan Fadil untuk menghibur duka cita Fatma.Fadil adalah orang yang baik dan dermawan.Dia adalah teman satu kelasnya yang juga sambil belajar di pesantren.
Mimpi Fatma tak akan pernah terhalang oleh apapun. Dia tidak akan melupakan apa yang menjadi pesan ibu juga apa yang telah sejak kecil menjadi cita citanya. Demi masa depannya dan adik adiknya dia tak akan menyerah walau beribu coba menyelimutinya.
Karena ingat pesan ibu supaya dia menjadi wanita yang solekhah dia bermaksud memenuhinya dengan usaha dia akan memperdalam ilmu agamanya di pesantren sembari dia meneruskan kuliahnya yang sekarang sudah semester tiga.Dia bermaksud memilih pesantren yang disarankan Fadil dan satu pesantren dengan Fadil juga.Fadil di Pesantren Pura dan Fatma di pesantren Putri.
Kuliah Fatma berjalan dengan lancer dan ilmu pengetahuan agamanyapun semakin kuat.cobaan dan rintangan yang menghadang dia nikmati dan dia lalui dengan penuh kegigihan dan kesabaran. Walau masih semester lima dan belum mengajukan judul dia sudah mulaih menggarap skripsi karena dia yakin judul yang akan diajukanya akan di terima.
benih benih cinta yuang tumbuh dalam diri fatma terhadap fadil yang selalu berbuat baik dan penuh perhatian telah di simpanya sejak semester dua yang lalu hingga dia telah melaksanakan ujian munakosah. Agustus yang akan datang dia berniat akan melaksanakan wisuda. Bgitu juga dengan fadil.
Wisudapun dilaksanakan. Ayah dan adiknya datang dalam acara tersebut. Sragam kebesaran telah dikenakanya.Hati fatma diliputi kebahagiaan begitu juga ayah dan adiknya merasakan kebahagiaan atas selesainya kuliah fatma.setelah acara selasai. Fadil mengajak Fatma bersama ayah dan adiknya makan bersama dirumah fadil.
Ketika dalam pertengahan makan dan setelah bebincang bincang hangat keluarga Fatma dan Fadil tiba tiba Fatma terdiam dan meneteskan air mata.Kebahagiaanya hilang.Dia teringat ibunya yang tidak bisa menyertainya.

keluarga Fadil mengerti akan perasaan fatma. Keluarga Fadil bermaksud menjadikan Fatma sebagai pendamping hidup Fadil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar