UNTUK IBU DI SURGA
Suasana haru yang menyelimuti rumah Fatma merubah suasana pagi
.Perpisahan antara keluarganya menjadikan pagi yang terselimut tangisan
tangisan yang membasahi pipi orang tua dan saudara saudaranya. Mereka belum
siap berpisah dengan Fatma apalagi ayah dan ibunya yang hanya mempunyai dua
anak yaitu fatma dan adiknya yang masih duduk di bangku kelas satu SD. Begitu
juga hati Fatma tidak rela berpisah dengan ibunya yang mempunyai sakit jantung
yang kadang kadang kambuh walaupun kepergianya adalah keinginanya juga demi
meraih cita cita yang diinginkan ibunya juga.
“Fatma..belajarlah dengan sungguh sungguh di Yogya sana,raihlah
Mimpimu, jadilah seorang dokter yang hebat agar bisa membantu orang lain. Jadilah
Orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.Jagalah
dirimubaik baik.Ibu dan ayah akan baik baik saja di sini.Ibu dan ayah hanya
minta do’a dari Fatma agar kami selalu mendapat kasih sayang dari alloh dan
selalu mendapatkan ampunanya. Pergilah…”
kata kata ibu Fatma melepas kepergian Fatma dengan airmata yang mengalir
di pipinya.
“Iya ibu..Fatma akan mempersembahkanya untuk ibu.Akan ku raih mimpiku demi ibu.Fatma
akan jaga diri Fatma dan akan selalu ku do’akan ibu” lirih Fatma dengan
tangisan sulit di hentikan.
Sementara ayah fatma hanya hanya bisa mengucap satu kata dengan
pipinya yang ranai
“pergilah”
Fatmapun pergi setelah merasakan hangatnya pelukan sang ibunda dan
belaian sang ayah. Adiknya pun telah dipeluknya.
“harun.. jaga diriyah,beljarlah yang rajin, jangan nakal sama ayah
dan ibu do’akan kakak yah.”pesan Fatma kepada adik
Fatma pergi dengan bus yang kebetulan lewat dan berhenti di jalan
raya depan rumah.Tangis Fatma tak kunjung berhenti sampai perjalanan yang sudah
cukup jauh.Baru berhenti ketika Fatma berfikir tegar.Ia harus semangat. Dan tak
ada gunanya menangis terus menerus.
Fatmapun sampai di jogja dad segera mencari tempat kost setelah
istirahat.Ia berniat mencari kost yang dekat dari kampusnya.
Fatma telah menikmati belajarnya di jurusan kedokteran yang di
ambilnya.Ujian semester genap telah di siapkan dengan baik.Ia menghabiskan
waktu di kost untuk belajar.
Siang ketika fatma sedang berada di depan kelas dan dia sedang
berpresentasi tiba tiba hp Fatma berbunyi. Keluarga dari rumahnya menelponya
yaitu pak lek Fatma. Fatma langsung keluar dari ruang kelas
“ Halo …Assalamu’alaikum,,,Gimana pale’”
“ Ya halo,,,Wa’alaikumsalam.. Fatma ?? .. ibu,,,,,,,”
“ibu kenapa,,?” tanya Fatma dengan nada panik dan penasaran
“ibu kamu Fatma, Ibu kamu dirawat di rumah sakit. Penyakit jantung
ibu kambuh parah.cepat sebaiknya kamu pulang sekarang juga”
“Ya udah sekarang aku pulang”
Fatma masuk kelas dengan pipinya yang basah.Ia segera juga
mengambil tas dan izin pada dosen. Ia hanya bilang mau izin pulang.Semua teman
teman fatma bingung dengan keadaan fatma.Yang tiba tiba aneh dan menangis.
“Fatma… Fatma kenapa ?”..tanya seorang temanya
“Ibu…” sambil
keluar dengan gugup hanya kata itu yang dikatakan untuk menjawab temanya itu
Perasaan gelisah menyelimuti Fatma sepanjang perjalanan. Air
matanya tak kunjung berhenti karena sangat khawatir dengan keadaan sang ibunda.
Sesampainya di rumah sakit ibu fatma telah di tutup dengan kain
putih.Ibu fatma telah meninggalkan Fatma dan adiknya Teriakan dan tangis Fatma merubah
suasana rumah sakit.Tak ada yang lebih berarti dari pada ibu bagi Fatma.Tanpa
ibunya baginya hilanglah arti kehidupan.Mimpinyapun telah memudar.
“Fatma…tidak ada gunanya fatma menangis. Tangis fatma justru akan
membuat ibu sedih. Fatma cukup mencapai dan menjalankan apa harapan ibu, ibu
pasti akan bahagia disana.”nasehat ayah untuk menghentian tangis Fatma
Fatmapun memeluk ayahnya.
Ketika itu adik fatma datang bersama paman.
“kaka kenapa ko nangis, Jangan nangis ka..”ucap polos harun yang
tidak tahu apa apa
“harunsayang,,,”serak lirih Ftma sambil memeluk adiknya dan sambil
berusaha menghentikan tanginya.
“Ayah…Ibu sedang tidur yah ?”polos Harun
Tak ada yang menjawab pertanyaan harun.Mereka bertiga berpelukan.
Sementara pamannya diam temenu menyimpan haru di belakang mereka
“ka..ko ibu belum bangun..Harun pingin jalan jalan sama ibu..”
“iya harun nanti dulu” jawab fatma dengan menahan air matanya
Suatu saat kemudian ibu dibawa pulang
“ka.. ko ibu dimandiin ka..?”
“Iya kan mau jalan jalan sama harun”walau jawaban Fatma yang tidak
sesuai cukup membuat harun percaya.
“Ko ibu di pakein baju putih?” tanya harun setelah ibunya
dimandikan
. Fatma hanya mengelus rambut harun sanbil menahan tangis
“ko ibu dibawa ke kuburan?”
Lagi lagFatma tidak
menjawabnya
“ko ibu dimasukin lubang, kan mau jalan jalan bareng harun dan
kaka”
“Ibu mau istirahat dulu Harun”
“ibu belum bangun yah.Terus jaln jalanya kapan.”
“Nanti Harun …ibu istirahat dulu”
“Kapi kapan ka,”
Ko ibu di timbun tanah ka,Ko ibu di bari kembang dan pertanyaan
pertanyaan lain tidak di jawab oleh Fatma
Setelah pemakaman selasai semua petaziah meninggalkan makam.
Tinggal ayah, Fatma dan harun yang masih
di samping makam ibu. Kemudian ayah dan Fatma mengajak Harun untuk pulang
“Nanti dulu Ayah, harun mau nunggu ibu bangun, Harun mau jalan
jalan”
“Iya harun tapi sekarang pulang dulu Harun ganti baju dulu”
Satu minggu setelah penguburan ibu, Fatma telah mampu memberi
keterangan pada adiklnya tentang ibunya. Dia bermaksud akan kembali ke Jogja
untuk meneruskan studinya. Teman teman Fatma tahu semua yang telah terjadi
entah dari siapa.Terutama Fadil yang sempat membuatkan izin atas kepulangan
Fatma.
Fatma merasa di buat baik oleh Fadil dan pada hari keduanya dia
sempat makan bersama di kantin dengan ajakan Fadil untuk menghibur duka cita
Fatma.Fadil adalah orang yang baik dan dermawan.Dia adalah teman satu kelasnya
yang juga sambil belajar di pesantren.
Mimpi Fatma tak akan pernah terhalang oleh apapun. Dia tidak akan
melupakan apa yang menjadi pesan ibu juga apa yang telah sejak kecil menjadi
cita citanya. Demi masa depannya dan adik adiknya dia tak akan menyerah walau
beribu coba menyelimutinya.
Karena ingat pesan ibu supaya dia menjadi wanita yang solekhah dia
bermaksud memenuhinya dengan usaha dia akan memperdalam ilmu agamanya di
pesantren sembari dia meneruskan kuliahnya yang sekarang sudah semester
tiga.Dia bermaksud memilih pesantren yang disarankan Fadil dan satu pesantren
dengan Fadil juga.Fadil di Pesantren Pura dan Fatma di pesantren Putri.
Kuliah Fatma berjalan dengan lancer dan ilmu pengetahuan
agamanyapun semakin kuat.cobaan dan rintangan yang menghadang dia nikmati dan
dia lalui dengan penuh kegigihan dan kesabaran. Walau masih semester lima dan
belum mengajukan judul dia sudah mulaih menggarap skripsi karena dia yakin
judul yang akan diajukanya akan di terima.
benih benih cinta yuang tumbuh dalam diri fatma terhadap fadil yang
selalu berbuat baik dan penuh perhatian telah di simpanya sejak semester dua
yang lalu hingga dia telah melaksanakan ujian munakosah. Agustus yang akan
datang dia berniat akan melaksanakan wisuda. Bgitu juga dengan fadil.
Wisudapun dilaksanakan. Ayah dan adiknya datang dalam acara
tersebut. Sragam kebesaran telah dikenakanya.Hati fatma diliputi kebahagiaan
begitu juga ayah dan adiknya merasakan kebahagiaan atas selesainya kuliah
fatma.setelah acara selasai. Fadil mengajak Fatma bersama ayah dan adiknya
makan bersama dirumah fadil.
Ketika dalam pertengahan makan dan setelah bebincang bincang hangat
keluarga Fatma dan Fadil tiba tiba Fatma terdiam dan meneteskan air
mata.Kebahagiaanya hilang.Dia teringat ibunya yang tidak bisa menyertainya.
keluarga Fadil mengerti akan perasaan fatma. Keluarga Fadil
bermaksud menjadikan Fatma sebagai pendamping hidup Fadil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar