MIMPIKU UNTUK SURGAKU
Ketika pagi menjelang mentaripun menatapku.
Bunga-bung di taman menyejukan suasana pagi bersama embun yang menetes suci.
Ayam jago sudah berhenti menyeru manusia untuk mengerjakan solat subuh. Anak-anaku telah berpakaian rapih untuk
segera berangkat menuju sekolah. Sayapun telah siap untuk pergi ke kantor untuk
memanaj perusahaan –supermarket yang saya miliki. sementara istri saya baru
saja mau membersihkan badanya karena dia tetap berada di rumah dan akan
mengawasi kariawan pekerja tekstil yang berada di sebelah rumah.
Pagi menunjukan pukul 06.30. Saya segera
pergi dengan mobil Mercedes benz yang telah saya beli ketika lahir anak kedua
saya sekaligus mengantarkan anak saya ke sekolah.
“Sayang… bapa pergi dulu yahh” pamit saya pada istri saya
“Iya,,Ayah..hati-hati yahh” jawab istri
saya dengan senyum dan ciuman yang memberi semangat
“Ayo Andi, Riska pamit sama ibu”
Kedua anak saya mencium tangan ibunya
begitu juga ibu mencium pipi mereka.
“Assalamualaikum ibu,sayang” kompak kami
bersama, saya dengan sebutan sayang dan anak saya cukup dengan sebutan ibu.
Hari telah menjelang siang. Waktu dzuhur
pun tiba. Aktifitas di kantor berhenti sementara untuk mengerjakan solat dzuhur
dan istirahat. Bukan angkuh, dengan bekal ilmu di pesantren membawa saya
menjadi imam jama’ah bersama kariawan saya dan sebagian masyarakat di masjid
sebelah perusahaan yang telah saya bangun dengan cukup besar. Selain sebagai
fasilitas perusahaan juga menyediakan masyaakat setempat agar meramaikanya.
Setelah solat dzuhur saya pulang untuk
mengajar ngaji di TPA di sebelah rumah saya yang juga sengaja saya bangun agar
saya mudah memanfaatkan ilmu agama yang telah saya pelajari di pesantren saat
kuliah dulu.
Dengan hati ceria saya mengendarai mobil
saya karena sebentar lagi saya akan bertemu dengan anak-anak juga istri saya
untuk berkumpul guna melaksanakan makan siang. Andi telah menunggu saya di
depan SMP Darul Fathon dimana dia bersekolah. Begitu juga Riska sedang
bersama-sama temanya sambil menunggu saya.
Makan siang telah terhidang di meja makan.
Kami segera makan bersama.
“Andi, Riska seandainya mau punya adik
minta laki-laki atau perempuan” gurau saya kepada kedua anak saya
“Aku minta anak laki-laki agar bisa nemenin
Andi main sepak bola” jawab andi dengan
riang
“Riska minta adik cewe biar andi bisa main
boneka bareng” saut Riska atas perkataan kakanya
“ Gimana kalo punya adik kembar laki-laki
dan perempuan” canda ibu pada mereka
“Mama ?,,,” ucap saya dengan tersenyum
“Becanda ayah”
“Udah-udah diterusin makanya” seru saya
pada istri dan kedua anak saya
Makan siang telah selasai. Jam didinding
menunjukan pukul 14.00.
“Andi, Riska .. ayo mandi.. terus ngaji,
tuh sudah ada temen yang berangkat” suruh istri saya pada anak-anak.
“Oke, mama..” jawab mereka dengan kompak
Setelah kedua anak saya mandi kemudian saya
juga mandi untuk siap berbagi ilmu bersama anak-anak kampung. Begitu juga istri
saya setelah saya selasai. Setelah selasai mandi kami bersiap untuk menuju TPA
dimana sudah banyak anak-anak setempat yang berangkat. Saya mengajar kelas tiga
sedangkan istri saya mengajar di kelas satu. Untuk kelas satu di pegang oleh
Soleh, tetangga saya yang juga alumni Pondok Jawa Timur.
Kami sangat bersyukur bisa berbagi ilmu
dengan sesama. Kami juga berterimakasih pada para kariawan yang membantu usaha
kami hingga kami bisa mencukupi hidup kami dan memenuhi kewajiban kami sebagai
umat muslim. Terima kasih kepada para masyarakat yang mau menitipkan anak
mereka di TPA kami hingga kami bisa memanfaatkan sedikit ilmu kami.
Senja menunjukan pukul 04.00. Pengajian TPA
telah usai. Kami mewajibkan para santri untuk melaksanakan solat asar berjamaah
di mushola yang sedia kami bangun untuk para santri berjamaah. Namun tak kalah
besar dengan masjid yang saya bangun di sebelah kantor.
Para santri pulang ke rumah masing-masing
setelah melakukan solat berjamaah. Waktu menunggu magrib cukup buat kami
istirahat. Kami berkumpul di depan televisi sambil berbincang-bincang
melepaskan ketegangan seharian beraktivitas. Tak ketinggalan kue donat dan
peyek kacang sebagai hidangan disaat kami santai. Mengingtkan masa lalu saat
kuliah sambil menjual donat dan peyek. Para kariawan pun telah pulang
setengah jam yang tadi setelah
mengerjakan tugas dalam posisinya masing-masing.
“Mama, gimana dua tahun yang akan datang
setelah kita pergi ke Baitulloh ayah berniat membangun Madrasah seingkat SMA”
tawar saya pada sang istri
“Boleh tuh yah,,Itu baik .. niat kita untuk
berjuang membangun agama dan negara”
“Insya Alloh mama tercinta”
“Bagaimana anak-anak”
“Setujuuuuu……..” jawab mereka dengan kompak