Rabu, 14 Januari 2015

MIMPIKU UNTUK SURGAKU


MIMPIKU UNTUK SURGAKU
Ketika pagi menjelang mentaripun menatapku. Bunga-bung di taman menyejukan suasana pagi bersama embun yang menetes suci. Ayam jago sudah berhenti menyeru manusia untuk mengerjakan solat subuh.  Anak-anaku telah berpakaian rapih untuk segera berangkat menuju sekolah. Sayapun telah siap untuk pergi ke kantor untuk memanaj perusahaan –supermarket yang saya miliki. sementara istri saya baru saja mau membersihkan badanya karena dia tetap berada di rumah dan akan mengawasi kariawan pekerja tekstil yang berada di sebelah rumah.
Pagi menunjukan pukul 06.30. Saya segera pergi dengan mobil Mercedes benz yang telah saya beli ketika lahir anak kedua saya sekaligus mengantarkan anak saya ke sekolah.
“Sayang… bapa pergi dulu yahh”  pamit saya pada istri saya
“Iya,,Ayah..hati-hati yahh” jawab istri saya dengan senyum dan ciuman yang memberi semangat
“Ayo Andi, Riska pamit sama ibu”
Kedua anak saya mencium tangan ibunya begitu juga ibu mencium pipi mereka.
“Assalamualaikum ibu,sayang” kompak kami bersama, saya dengan sebutan sayang dan anak saya cukup dengan sebutan ibu.
Hari telah menjelang siang. Waktu dzuhur pun tiba. Aktifitas di kantor berhenti sementara untuk mengerjakan solat dzuhur dan istirahat. Bukan angkuh, dengan bekal ilmu di pesantren membawa saya menjadi imam jama’ah bersama kariawan saya dan sebagian masyarakat di masjid sebelah perusahaan yang telah saya bangun dengan cukup besar. Selain sebagai fasilitas perusahaan juga menyediakan masyaakat setempat agar meramaikanya.
Setelah solat dzuhur saya pulang untuk mengajar ngaji di TPA di sebelah rumah saya yang juga sengaja saya bangun agar saya mudah memanfaatkan ilmu agama yang telah saya pelajari di pesantren saat kuliah dulu.
Dengan hati ceria saya mengendarai mobil saya karena sebentar lagi saya akan bertemu dengan anak-anak juga istri saya untuk berkumpul guna melaksanakan makan siang. Andi telah menunggu saya di depan SMP Darul Fathon dimana dia bersekolah. Begitu juga Riska sedang bersama-sama temanya sambil menunggu saya.
 Makan siang telah terhidang di meja makan. Kami segera makan bersama.
“Andi, Riska seandainya mau punya adik minta laki-laki atau perempuan” gurau saya kepada kedua anak saya
“Aku minta anak laki-laki agar bisa nemenin Andi  main sepak bola” jawab andi dengan riang
“Riska minta adik cewe biar andi bisa main boneka bareng” saut Riska atas perkataan kakanya
“ Gimana kalo punya adik kembar laki-laki dan perempuan” canda ibu pada mereka
“Mama ?,,,” ucap saya dengan tersenyum
“Becanda ayah”
“Udah-udah diterusin makanya” seru saya pada istri dan kedua anak saya
Makan siang telah selasai. Jam didinding menunjukan pukul 14.00.
“Andi, Riska .. ayo mandi.. terus ngaji, tuh sudah ada temen yang berangkat” suruh istri saya pada anak-anak.
“Oke, mama..” jawab mereka dengan kompak
Setelah kedua anak saya mandi kemudian saya juga mandi untuk siap berbagi ilmu bersama anak-anak kampung. Begitu juga istri saya setelah saya selasai. Setelah selasai mandi kami bersiap untuk menuju TPA dimana sudah banyak anak-anak setempat yang berangkat. Saya mengajar kelas tiga sedangkan istri saya mengajar di kelas satu. Untuk kelas satu di pegang oleh Soleh, tetangga saya yang juga alumni Pondok Jawa Timur.
Kami sangat bersyukur bisa berbagi ilmu dengan sesama. Kami juga berterimakasih pada para kariawan yang membantu usaha kami hingga kami bisa mencukupi hidup kami dan memenuhi kewajiban kami sebagai umat muslim. Terima kasih kepada para masyarakat yang mau menitipkan anak mereka di TPA kami hingga kami bisa memanfaatkan sedikit ilmu kami.
Senja menunjukan pukul 04.00. Pengajian TPA telah usai. Kami mewajibkan para santri untuk melaksanakan solat asar berjamaah di mushola yang sedia kami bangun untuk para santri berjamaah. Namun tak kalah besar dengan masjid yang saya bangun di sebelah kantor.
Para santri pulang ke rumah masing-masing setelah melakukan solat berjamaah. Waktu menunggu magrib cukup buat kami istirahat. Kami berkumpul di depan televisi sambil berbincang-bincang melepaskan ketegangan seharian beraktivitas. Tak ketinggalan kue donat dan peyek kacang sebagai hidangan disaat kami santai. Mengingtkan masa lalu saat kuliah sambil menjual donat dan peyek. Para kariawan pun telah pulang setengah  jam yang tadi setelah mengerjakan tugas dalam posisinya masing-masing.
“Mama, gimana dua tahun yang akan datang setelah kita pergi ke Baitulloh ayah berniat membangun Madrasah seingkat SMA” tawar saya pada sang istri
“Boleh tuh yah,,Itu baik .. niat kita untuk berjuang membangun agama dan negara”
“Insya Alloh mama tercinta”
“Bagaimana anak-anak”
“Setujuuuuu……..” jawab mereka dengan kompak













UNTUK IBU DI SURGA

UNTUK IBU DI SURGA
Suasana haru yang menyelimuti rumah Fatma merubah suasana pagi .Perpisahan antara keluarganya menjadikan pagi yang terselimut tangisan tangisan yang membasahi pipi orang tua dan saudara saudaranya. Mereka belum siap berpisah dengan Fatma apalagi ayah dan ibunya yang hanya mempunyai dua anak yaitu fatma dan adiknya yang masih duduk di bangku kelas satu SD. Begitu juga hati Fatma tidak rela berpisah dengan ibunya yang mempunyai sakit jantung yang kadang kadang kambuh walaupun kepergianya adalah keinginanya juga demi meraih cita cita yang diinginkan ibunya juga.
“Fatma..belajarlah dengan sungguh sungguh di Yogya sana,raihlah Mimpimu, jadilah seorang dokter yang hebat agar bisa membantu orang lain. Jadilah Orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.Jagalah dirimubaik baik.Ibu dan ayah akan baik baik saja di sini.Ibu dan ayah hanya minta do’a dari Fatma agar kami selalu mendapat kasih sayang dari alloh dan selalu mendapatkan ampunanya. Pergilah…”  kata kata ibu Fatma melepas kepergian Fatma dengan airmata yang mengalir di pipinya.
“Iya ibu..Fatma akan mempersembahkanya  untuk ibu.Akan ku raih mimpiku demi ibu.Fatma akan jaga diri Fatma dan akan selalu ku do’akan ibu” lirih Fatma dengan tangisan sulit di hentikan.
Sementara ayah fatma hanya hanya bisa mengucap satu kata dengan pipinya yang ranai
“pergilah”
Fatmapun pergi setelah merasakan hangatnya pelukan sang ibunda dan belaian sang ayah. Adiknya pun telah dipeluknya.
“harun.. jaga diriyah,beljarlah yang rajin, jangan nakal sama ayah dan ibu do’akan kakak yah.”pesan Fatma kepada adik
Fatma pergi dengan bus yang kebetulan lewat dan berhenti di jalan raya depan rumah.Tangis Fatma tak kunjung berhenti sampai perjalanan yang sudah cukup jauh.Baru berhenti ketika Fatma berfikir tegar.Ia harus semangat. Dan tak ada gunanya menangis terus menerus.
Fatmapun sampai di jogja dad segera mencari tempat kost setelah istirahat.Ia berniat mencari kost yang dekat dari kampusnya. 

Fatma telah menikmati belajarnya di jurusan kedokteran yang di ambilnya.Ujian semester genap telah di siapkan dengan baik.Ia menghabiskan waktu di kost untuk belajar.
Siang ketika fatma sedang berada di depan kelas dan dia sedang berpresentasi tiba tiba hp Fatma berbunyi. Keluarga dari rumahnya menelponya yaitu pak lek Fatma. Fatma langsung keluar dari ruang kelas
“ Halo …Assalamu’alaikum,,,Gimana pale’”
“ Ya halo,,,Wa’alaikumsalam.. Fatma ?? .. ibu,,,,,,,”
“ibu kenapa,,?” tanya Fatma dengan nada panik dan penasaran

“ibu kamu Fatma, Ibu kamu dirawat di rumah sakit. Penyakit jantung ibu kambuh parah.cepat sebaiknya kamu pulang sekarang juga”
“Ya udah sekarang aku pulang”
Fatma masuk kelas dengan pipinya yang basah.Ia segera juga mengambil tas dan izin pada dosen. Ia hanya bilang mau izin pulang.Semua teman teman fatma bingung dengan keadaan fatma.Yang tiba tiba aneh dan menangis.
“Fatma… Fatma kenapa ?”..tanya seorang temanya
“Ibu…” sambil keluar dengan gugup hanya kata itu yang dikatakan untuk menjawab temanya itu
Perasaan gelisah menyelimuti Fatma sepanjang perjalanan. Air matanya tak kunjung berhenti karena sangat khawatir dengan keadaan sang ibunda.
Sesampainya di rumah sakit ibu fatma telah di tutup dengan kain putih.Ibu fatma telah meninggalkan Fatma dan adiknya Teriakan dan tangis Fatma merubah suasana rumah sakit.Tak ada yang lebih berarti dari pada ibu bagi Fatma.Tanpa ibunya baginya hilanglah arti kehidupan.Mimpinyapun telah memudar.
“Fatma…tidak ada gunanya fatma menangis. Tangis fatma justru akan membuat ibu sedih. Fatma cukup mencapai dan menjalankan apa harapan ibu, ibu pasti akan bahagia disana.”nasehat ayah untuk menghentian tangis Fatma
Fatmapun memeluk ayahnya.
Ketika itu adik fatma datang bersama paman.
“kaka kenapa ko nangis, Jangan nangis ka..”ucap polos harun yang tidak tahu apa apa
“harunsayang,,,”serak lirih Ftma sambil memeluk adiknya dan sambil berusaha menghentikan tanginya.
“Ayah…Ibu sedang tidur yah ?”polos Harun
Tak ada yang menjawab pertanyaan harun.Mereka bertiga berpelukan. Sementara pamannya diam temenu menyimpan haru di belakang mereka
“ka..ko ibu belum bangun..Harun pingin jalan jalan sama ibu..”
“iya harun nanti dulu” jawab fatma dengan menahan air matanya
Suatu saat kemudian ibu dibawa pulang
“ka.. ko ibu dimandiin ka..?”
“Iya kan mau jalan jalan sama harun”walau jawaban Fatma yang tidak sesuai cukup membuat harun percaya.
“Ko ibu di pakein baju putih?” tanya harun setelah ibunya dimandikan
. Fatma hanya mengelus rambut harun sanbil menahan tangis
“ko ibu dibawa ke kuburan?”
Lagi lagFatma tidak menjawabnya
“ko ibu dimasukin lubang, kan mau jalan jalan bareng harun dan kaka”
“Ibu mau istirahat dulu Harun”
“ibu belum bangun yah.Terus jaln jalanya kapan.”
“Nanti Harun …ibu istirahat dulu”
“Kapi kapan ka,”
Ko ibu di timbun tanah ka,Ko ibu di bari kembang dan pertanyaan pertanyaan lain tidak di jawab oleh Fatma

Setelah pemakaman selasai semua petaziah meninggalkan makam. Tinggal ayah, Fatma dan harun  yang masih di samping makam ibu. Kemudian ayah dan Fatma mengajak Harun untuk pulang
“Nanti dulu Ayah, harun mau nunggu ibu bangun, Harun mau jalan jalan”
“Iya harun tapi sekarang pulang dulu Harun ganti baju dulu”
Satu minggu setelah penguburan ibu, Fatma telah mampu memberi keterangan pada adiklnya tentang ibunya. Dia bermaksud akan kembali ke Jogja untuk meneruskan studinya. Teman teman Fatma tahu semua yang telah terjadi entah dari siapa.Terutama Fadil yang sempat membuatkan izin atas kepulangan Fatma.
Fatma merasa di buat baik oleh Fadil dan pada hari keduanya dia sempat makan bersama di kantin dengan ajakan Fadil untuk menghibur duka cita Fatma.Fadil adalah orang yang baik dan dermawan.Dia adalah teman satu kelasnya yang juga sambil belajar di pesantren.
Mimpi Fatma tak akan pernah terhalang oleh apapun. Dia tidak akan melupakan apa yang menjadi pesan ibu juga apa yang telah sejak kecil menjadi cita citanya. Demi masa depannya dan adik adiknya dia tak akan menyerah walau beribu coba menyelimutinya.
Karena ingat pesan ibu supaya dia menjadi wanita yang solekhah dia bermaksud memenuhinya dengan usaha dia akan memperdalam ilmu agamanya di pesantren sembari dia meneruskan kuliahnya yang sekarang sudah semester tiga.Dia bermaksud memilih pesantren yang disarankan Fadil dan satu pesantren dengan Fadil juga.Fadil di Pesantren Pura dan Fatma di pesantren Putri.
Kuliah Fatma berjalan dengan lancer dan ilmu pengetahuan agamanyapun semakin kuat.cobaan dan rintangan yang menghadang dia nikmati dan dia lalui dengan penuh kegigihan dan kesabaran. Walau masih semester lima dan belum mengajukan judul dia sudah mulaih menggarap skripsi karena dia yakin judul yang akan diajukanya akan di terima.
benih benih cinta yuang tumbuh dalam diri fatma terhadap fadil yang selalu berbuat baik dan penuh perhatian telah di simpanya sejak semester dua yang lalu hingga dia telah melaksanakan ujian munakosah. Agustus yang akan datang dia berniat akan melaksanakan wisuda. Bgitu juga dengan fadil.
Wisudapun dilaksanakan. Ayah dan adiknya datang dalam acara tersebut. Sragam kebesaran telah dikenakanya.Hati fatma diliputi kebahagiaan begitu juga ayah dan adiknya merasakan kebahagiaan atas selesainya kuliah fatma.setelah acara selasai. Fadil mengajak Fatma bersama ayah dan adiknya makan bersama dirumah fadil.
Ketika dalam pertengahan makan dan setelah bebincang bincang hangat keluarga Fatma dan Fadil tiba tiba Fatma terdiam dan meneteskan air mata.Kebahagiaanya hilang.Dia teringat ibunya yang tidak bisa menyertainya.

keluarga Fadil mengerti akan perasaan fatma. Keluarga Fadil bermaksud menjadikan Fatma sebagai pendamping hidup Fadil.

Air Mata Di Balik Rindu_cerpen

Air Mata Di Balik Rindu
Kenangan bersama kebersamaan yang indah kini telah terhenti. Walau untuk sementara. Senja menatapku dengan sedih bersama bayang kerinduan pada jiwa ini. Meja makan itu mengingatku pada masa lalu tentang kebersamaan. Duduk bersama ibu, ayah dan adik-adik saya saat mega memancar menandakan maghrib telah tiba. Mungkin mereka sekarang sedang meniapkan es cau yang telah di peras tadi siang yang waktu itu saya berada bersama mereka.
Kini senja membiri aura yang berbeda pada tahun pertamaku di Jogja. Namun saya yakin semua adalah suratan tuhan yang telah merencanakan sebuah keindahan yang lebih pada saya dan keluarga saya.
“Hai Faiz..nglamun aja.. tuh dah magrib mari kita buka ” sapa Andri teman satu Pesantren yang cukup membuat saya kaget.
“bikin kaget aja”
“lagian kamu nglamun aja, sampai gak inget buka puasa, lagi jatuh cinta yaaa..,ayoo ngaku”
“ah, ada-ada aja, udah ayo buka puasa”
Saya dan teman-teman sayapun berbuka puasa. Hidangan yang sederhana menjadi istimewa karena adanya kebersamaan. Namun sore ini tiga suappun aku memaksanya untuk masuk ke dalam mulutku. Mungkin karena aku terlalu merindukan keluargaku di sana.
“Faiz, ko udahan?” kata Lukman temanku
“Iya,, lanjutin aja”
“Nanti sakit lohh..”
“Emang kenapasih lukman jadi kayak gitu?” bisik munir pada teman temanya
“Ga tau tuhh, dari tadi aneh kayak gitu, lagi mikirin cewek kali,,” jelas Lukman yang juga merasa penasaran
Tanpa hiraukan apa kata-kata mereka saya langsung bergegas mengambil air wudlu dan menuju mushola dimana dilaksanakanya solat jamaah para santri. Solat sunat dua rekaat dan tadarus Al-qur’an ku lakukan sambil menunggu teman-teman siap melaksanakan solat jama’ah maghrib.
Entah kenapa ketika aku sedang membaca Al-Qur’an tiba-tiba air mataku menetes. Mungkin karena kerinduan yang begitu dalam membuatku tak bisa menahanya.
“tuhan berikan aku kekuatan untuk bertahan di sini
Berikan aku kekuatan agar aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku
Dengan mimpi-mimpi yang sedang ku ukir dalam kerinduan ini
Tuhan
Engkaulah kuasa atas segalanya
Selamatkan dan kasihi semua keluargaku di sana
Kasihi ibuku sebagaimana ia mengasihi aku di waktu kecilku
Kasihi empat adiku yang sempat aku buat menangis
Yang belum bisa aku membahagiakan mereka”
Waktu menunjukan pukul 09.00. solat terawih telah usai. Saatnya mengaji bersama. Munkin karena terlalu capai seharian kuliah dan pulang pergi dengan sepeda saya merasa begtu ngantuk saat mengaji.
Saya bertemu dengan ibu saya dan akupun memeluknya. Airmata meleleh karena haru dan begitu rindu yang mendalam. Tiba-tiba ibu melepas pelukanku dan mengatakan “ibu pulang dulu yaa”
“ibu, ko buru-buru bu”
“ibu kan meninggal adik adik di rumah”
“ibuuuuuuu”
“Faizz… Bangun ,, kenapa kamu. Waktu ngaji malah tidur , berisik lagi”tegur ustadzku yang marah atas kelakuanku membuat suasana ngaji jadi terganggu
Aku hanya terdiam
“Ayo berdiri” suruh ustadzku menghukumku
Akupun berdiri. Lagi-lagi aku meneteskan air mata.
Pagi setelah saya ngaji bersama teman teman saya berangkat menuju kampus dengan seoeda butut yang saya miliki. Jalan raya begitu padat. Mentari cukup membakar kulit sehingga saya merasa kehilangan cairan tubuh dan saya merasa begitu lemas. Mungkin karena aku hanya minum air dan tiga suapnasi saat buka puasa kemarin dan satu gelas air putih ketika sahur tadi.

“Faiz, kamu harus sabar. Kamu harus bisa bertahan di pondok ini agar kamu bisa menjadi orang yang hebat dan bisa membawa ibu ke surga, kamu harus kuat dan tegar. Ingat mimpi-mimpimu” nasehat ibu padaku
“iya ibu, tapi saya sangat membutuhkan do’a ibu”
Tiba tiba ibu tak kulihat jejaknya.
“Ibu……ibu,,ibu kemana ?”teriakku memanggilnya
“Faiz, Faiz kenapa ?. buka mata Faiz, Ibu di sini”tutur ibu saya yang berada di samping saya.
“Ibu,.. Faiz ada di mana ibu?”
“Faiz berada di rumah sakit. Faiz tak sadarkan diri saat berangkat kuliah tadi pagi, kemuadian kamu di bawa kerumah sakuit dan pihak pesantren memangil ibu untuk datang menemui Faiz di sini. Ada seseorang yang menolongkamu dan membaca identitas pada kartu santri kamu” jelas ibu dengan meneteskan air mata

Kemudian saya memeluk ibu saya.  Kehangtan yang sangat kurindukan kini saya dapatkan kembali.