Rabu, 14 Januari 2015

Air Mata Di Balik Rindu_cerpen

Air Mata Di Balik Rindu
Kenangan bersama kebersamaan yang indah kini telah terhenti. Walau untuk sementara. Senja menatapku dengan sedih bersama bayang kerinduan pada jiwa ini. Meja makan itu mengingatku pada masa lalu tentang kebersamaan. Duduk bersama ibu, ayah dan adik-adik saya saat mega memancar menandakan maghrib telah tiba. Mungkin mereka sekarang sedang meniapkan es cau yang telah di peras tadi siang yang waktu itu saya berada bersama mereka.
Kini senja membiri aura yang berbeda pada tahun pertamaku di Jogja. Namun saya yakin semua adalah suratan tuhan yang telah merencanakan sebuah keindahan yang lebih pada saya dan keluarga saya.
“Hai Faiz..nglamun aja.. tuh dah magrib mari kita buka ” sapa Andri teman satu Pesantren yang cukup membuat saya kaget.
“bikin kaget aja”
“lagian kamu nglamun aja, sampai gak inget buka puasa, lagi jatuh cinta yaaa..,ayoo ngaku”
“ah, ada-ada aja, udah ayo buka puasa”
Saya dan teman-teman sayapun berbuka puasa. Hidangan yang sederhana menjadi istimewa karena adanya kebersamaan. Namun sore ini tiga suappun aku memaksanya untuk masuk ke dalam mulutku. Mungkin karena aku terlalu merindukan keluargaku di sana.
“Faiz, ko udahan?” kata Lukman temanku
“Iya,, lanjutin aja”
“Nanti sakit lohh..”
“Emang kenapasih lukman jadi kayak gitu?” bisik munir pada teman temanya
“Ga tau tuhh, dari tadi aneh kayak gitu, lagi mikirin cewek kali,,” jelas Lukman yang juga merasa penasaran
Tanpa hiraukan apa kata-kata mereka saya langsung bergegas mengambil air wudlu dan menuju mushola dimana dilaksanakanya solat jamaah para santri. Solat sunat dua rekaat dan tadarus Al-qur’an ku lakukan sambil menunggu teman-teman siap melaksanakan solat jama’ah maghrib.
Entah kenapa ketika aku sedang membaca Al-Qur’an tiba-tiba air mataku menetes. Mungkin karena kerinduan yang begitu dalam membuatku tak bisa menahanya.
“tuhan berikan aku kekuatan untuk bertahan di sini
Berikan aku kekuatan agar aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku
Dengan mimpi-mimpi yang sedang ku ukir dalam kerinduan ini
Tuhan
Engkaulah kuasa atas segalanya
Selamatkan dan kasihi semua keluargaku di sana
Kasihi ibuku sebagaimana ia mengasihi aku di waktu kecilku
Kasihi empat adiku yang sempat aku buat menangis
Yang belum bisa aku membahagiakan mereka”
Waktu menunjukan pukul 09.00. solat terawih telah usai. Saatnya mengaji bersama. Munkin karena terlalu capai seharian kuliah dan pulang pergi dengan sepeda saya merasa begtu ngantuk saat mengaji.
Saya bertemu dengan ibu saya dan akupun memeluknya. Airmata meleleh karena haru dan begitu rindu yang mendalam. Tiba-tiba ibu melepas pelukanku dan mengatakan “ibu pulang dulu yaa”
“ibu, ko buru-buru bu”
“ibu kan meninggal adik adik di rumah”
“ibuuuuuuu”
“Faizz… Bangun ,, kenapa kamu. Waktu ngaji malah tidur , berisik lagi”tegur ustadzku yang marah atas kelakuanku membuat suasana ngaji jadi terganggu
Aku hanya terdiam
“Ayo berdiri” suruh ustadzku menghukumku
Akupun berdiri. Lagi-lagi aku meneteskan air mata.
Pagi setelah saya ngaji bersama teman teman saya berangkat menuju kampus dengan seoeda butut yang saya miliki. Jalan raya begitu padat. Mentari cukup membakar kulit sehingga saya merasa kehilangan cairan tubuh dan saya merasa begitu lemas. Mungkin karena aku hanya minum air dan tiga suapnasi saat buka puasa kemarin dan satu gelas air putih ketika sahur tadi.

“Faiz, kamu harus sabar. Kamu harus bisa bertahan di pondok ini agar kamu bisa menjadi orang yang hebat dan bisa membawa ibu ke surga, kamu harus kuat dan tegar. Ingat mimpi-mimpimu” nasehat ibu padaku
“iya ibu, tapi saya sangat membutuhkan do’a ibu”
Tiba tiba ibu tak kulihat jejaknya.
“Ibu……ibu,,ibu kemana ?”teriakku memanggilnya
“Faiz, Faiz kenapa ?. buka mata Faiz, Ibu di sini”tutur ibu saya yang berada di samping saya.
“Ibu,.. Faiz ada di mana ibu?”
“Faiz berada di rumah sakit. Faiz tak sadarkan diri saat berangkat kuliah tadi pagi, kemuadian kamu di bawa kerumah sakuit dan pihak pesantren memangil ibu untuk datang menemui Faiz di sini. Ada seseorang yang menolongkamu dan membaca identitas pada kartu santri kamu” jelas ibu dengan meneteskan air mata

Kemudian saya memeluk ibu saya.  Kehangtan yang sangat kurindukan kini saya dapatkan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar